Sapi ambruk tiba-tiba pada saat menyusui, apa penyebabnya?

Penyakit Sindrom Sapi Ambruk (SSA) merupakan penyakit yang sering di derita oleh sapi di Indonesia dengan angka kerugian yang cukup tinggi di kalangan peternak. Banyak peternak yang belum paham akan pentingnya penyakit ini karena keterbatasan informasi dan pengetahuan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh demam tiga hari, asupan protein yang berlebih, kekurangan selenium, cedera otot, cedera saraf, gizi buruk. Kasus paling banyak disebabkan oleh demam tiga hari, cedera otot dan saraf. Pada kondisi ini umumnya keadaan fisiologi sapi normal. Pada kondisi ini sapi mencoba untuk naik. Sapi dapat berdiri bila diberi alat bantu untuk menopangnya, misalnya alat penyangga yang diletakan pada dada dan perut yang memiliki kegunaan agar ambing dari sapi terhindar dari cedera. Kondisi ambruk juga dapat disebabkan karena rendahnya kadar kalsium darah pada saat hewan menyusui (milk fever)

Milk fever  memiliki gambaran klinis yang diamati akibat dari turun kadar kalsium didalam darah. Pada kondisi ini memiliki 3 stadium gambaran klinis antara lain stadium prodormal, stadium berbaring dan stadium koma.

Stadium Prodormal
Pada kondisi ini sapi mengalami kegelisahan dan cenderung eksprei muka yang terlihat beringas. Nafsu makan serta minum mengalami penurunan sehingga pengeluaran kecing dan kotoran menurun. Sapi mengalami hipersensitif dimana sapi mudah sekali menerima rangsangan dari luar. Otot mengalami gemetar terutama pada bagian kepala dan kaki.
Saat sapi berdiri terlihat bahwa gerakan kaku dan saat bergerak, gerakannya tidak teratur sehingga menyebabkan susah dalam berjalan diamana sapi akan terlihat berjalan dengan hati-hati dan bila dipaksakan akan jatuh. Bila sudah terjatuh maka akan sangat sulit untuk berdiri kembali.

Stadium berbaring
Sapi sudah tidak mampu berdiri, berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang seperti huruf S. Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan rektum yang berisi tinja kering atau setengah kering. Pada stadium ini penderita masih mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang dan penderita makin bertambah lesu. Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal yang bersifat subnormal.

Stadium koma
Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun dan berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen. Gangguan sirkulasi sangat mencolok, pulsus jadi lemah (120 x/menit), dan suhu tubuh turun di bawah normal. Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang. Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.

Beberapa penyakit komplikasi dapat timbul mengikuti kejadian hypocalcaemia, karena kondisi penderita yang terus berbaring diantaranya:

  • Dekubites, kulit lecet-lecet. Luka ini disebabkan karena infeksi yang berasal dari lantai, dapat menyebabkan dekubites.
  • Perut menjadi gembung atau timpani, karena lantai yang selalu dingin mendorong terjadinya penimbunan gas dalam perut pada penderita yang selalu berbaring.
  • Pneumonia kerena terjadi regurgitasi pada waktu memamah biak disertai adanya paralisa dari laring dan faring. Sewaktu menelan makanan, sebagian makanan masuk ke dalam paru-paru dan dpat diikuti oleh pneumonia pada penderita.

 

Komplikasi kasus yang ditemukan sering yaitu terjadinya lecet-lecet yang terjadi di kulit sebagai akibat adanya infeksi yang berasal dari lantai karena hewan lama berbaring (dekubitus) dan terjadinya pneumonia karena makanan menumpuk di dalam rumen sebgai akibat tidak adanya tonus dalam dalam rumen dan gerakan peristaltik usus peristaltik. Kejadian pneumonia ini juga sebagai akibat sapi terlalu lama berbaring di lantai sehingga banyak terjadi penimbunan gas, jika kondisi berlangsung lama akan menyebabkan paralisa laring dan faring sehingga sapi akan mengalami kesusahan pada waktu regurgitasi pada waktu memamah biak akibatnya sebagian makanan akan masuk ke dalam paru-paru.

 

Metode diagnosa

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah melakukan pemeriksaan darah. Darah dapat diambil lewat vena jugularis. Darah yang diambil diperiksa terhadap kadar kalsium darah. Kalsium dalam serum dapat diukur dengan metoda sangat sederhana sampai metoda yang mutakhir. Yang termasuk sederhana ialah dengan metoda Clark&Collib yang menggunakan KmnO4 untuk titrasi. Lainnya ialah dengan metoda “kolorimetri sederhana”, berdasarkan intensitas warna yang kemudian dibandingkan dengan warna standar. Sekarang sering dilakukan uji untuk menentukan kadar kalsium mengion. Dalam hal ini dipakai suatu elektroda yang bersifat khas untuk ion kalsium. Lain dari itu kadar kalsium dalam darah dapat pula ditentukan dengan “Atomic absorption spectroscopy”.

Pemeriksaan kadar kalsium dalam darah dilapangan adalah dimana peralatan yang dibutuhkan yaitu tabung rekasi 12 ml dengan kalibrasi 2,3,5,7 dan 10 ml, karutan EDTA 1,9%, alat suntik tuberkulin dan water bath. Cara pemeriksaannya yaitu ke dalam semua tabung reaksi dimasukkan EDTA sebanyak 0.1 ml. Darah sebanyak 35 ml diambil dari vena jugularis dengan cepat dan dimasukkan ke dalam 5 tabung sampai pada batas kalibrasi. Setelah ditutup dikocok kuat-kuat dimasukkan ke dalam water bath dengan suhu 1150 F (46.10 C) dan diamati selama 15 dan 20 menit. Setelah waktu tersebut rak diangkat dan jumlah tabung yang darahnya menggumpal dihitung. Pada kasus di lapangan tidak dilakukan pengecekan darah untuk melihat kadar Ca, Mg dan P.

Penaganan
Pada penanganan yang dilakukan sekedar try and error karena penyebab SSA belum diketahui secara pasti, karena sangat bervariatif dan komplikatif ditambah sedikitnya sumber literatur yang menjelaskan kondisi ini. Dilaporkan 3,8-28% sapi-sapi yang mengalami hipokalsemia setelah melahirkan mengalami ambruk dengan laporan angka kematian mencapai 20-67%. Kasus ini mengahdirkan tantangan untuk para dokter hewan dan personel peternakan sapi untuk melakukan penanganan. Tulisan ini akan fokus membahas penyebab sindrom sapi ambruk, manajemen penanganan SSA dan pengobatan dari efek samping akibat rebah (recumbency) yang terlalu lama pada sapi-sapi yang menderita sindrom sapi ambruk.

Pakan pada ternak sapi merupakan faktor yang penting dalam suatu usaha peternakan. Tanpa makanan yang baik dan dalam jumlah yang sesuai meskipun ternak tersebut merupakan bibit unggul akan kurang dapat memperlihatkan keunggulannya. Proses pencernaan makanan pada ruminansia seperti sapi, kerbau dan kambing merupakan proses yang komplek. Pakan dan nutrisi dari bahan makanan tertentu selama kehidupan embrionik dan kehidupan fetus awal terhadap performansi reproduksi. Pemberian kalsium hendaknya sekedar untuk pemeliharaan fungsi faali (2,5 g/100 lb). Jumlah Kalsium yang ideal dalam pakan sehari adalah 20 g saja. Sehingga kalsium sangat dibutuhkan untuk metabolisme sapi yang sedang bunting.

 

Referensi:

Anonim, 2018. Sindroma Sapi Ambruk : Masalah Serius Bagi Peternakan Sapi. http://ditjennak.pertanian.go.id/perpustakaan/bbvetwates. Diakses tanggal 4 oktober 2018 pukul 22.00 WIB
Subroto dan Tjahajati, I. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

 

Penulis : Eky Pradita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*